Sunday, March 10, 2013

Harus Berapa Lama Dan Harus Bagaimana…?

Oleh : Subki Sukendi*



Semua orang tentu tau bahwa hidup ini sementara, tetapi tidak ada yang tau kalau ia harus hidup berapa lama?. Semua orang pasti ingin menjadi sukses, tapi tidak semua orang tau caranya menjadi sukses. Semua orang tau bahwa segala sesuatu membutuhkan proses, tapi tidak semua orang mau menjalani prosesnya. Kita yang sekarang berbadan besar ini, dulunya kecil. Kita yang sekarang pandai membaca dan menulis ini, dulunya buta huruf. Kita yang sekarang pandai berbicara, dulunya tidak bisa berbicara. Kita selalu berproses seiring dengan berjalannya waktu. Masa sekarang dan masa depan kita tidak akan berbeda, bila kita tidak melakukan perubahan.
Sebagai seorang mahasiswa, kita memiliki target-target yang perlu kita capai. Dari target-target kecil menuju target besar. Untuk menyelesaikan program studi strata 1, kita butuh waktu empat atau lima tahun. Dan dalam setiap tahunnya kita dituntut untuk bisa melewati ujian-ujian yang disediakan untuk menuju tahun berikutnya, hingga menuju puncak strata 1. Dan ini bukanlah akhir dari perjalanan studi kita, karena baik melanjutkan ke jenjang strata 2 dan 3 ataupun tidak, kita tetap terus berproses dalam studi kita, baik secara formal maupun nonformal.
Dan sebagai bagian dari masyarakat, kita tidak bisa terlepas dari kehidupan bermasyarakat. Kehidupan dunia kampus merupakan gambaran kecil dan miniatur kehidupan bermasyarakat. Kita tidak bisa hidup hanya untuk diri sendiri, karena kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dan salah satu perwujudan dari belajar bermasyarakat, dunia kampus membentuk berbagai organisasi yang tujuannya untuk membentuk karakter pribadi yang peduli dan pandai dalam mengelola berbagai persoalan dalam kehidupan bermasyarakat kelak.
Jadi, kita sebagai penduduk kampus dituntut untuk sukses studi, dan sebagai unsur masyarakat kita dituntut untuk sukses berorganisasi. Pelajaran-pelajaran yang kita geluti di kampus sejatinya selain untuk diri sendiri juga untuk disampaikan dan diterapkan di masyarakat kita, dan tentunya untuk menyampaikan dan menerapkan hal tersebut kita membutuhkan ilmu sosial diantaranya kita dapatkan dari pengalaman berorganisasi.
Tentu kurang bijak jika kita hanya menggeluti satu bidang (pelajaran kampus) dan meninggalkan bidang lainnya (organisasi), padahal keduanya saling berkaitan. Kita bisa melihat perbedaan secara kasat mata antara orang yang memisahkan antara kampus dan organisasi, dan antara orang yang menyatukan keduanya. Kesibukan di kampus tidak bisa dijadikan alasan/pembenaran untuk meninggalkan organisasi sama sekali, dan begitu juga organisasi tidak bisa disalahkan mengganggu aktifitas belajar di kampus. Keduanya harus diberikan porsi secara proporsional, agar tidak saling bertabrakan. Persoalannya itu ada pada manajemen waktu.
Kita semua memiliki waktu yang sama-24 jam sehari semalam-, tidak ada perbedaan banyaknya waktu antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lain, antara mahasiswa dengan dosen, antara mahasiswa dan bukan mahasiswa, semua memiliki jumlah waktu yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada kualitas waktu yang dimanfaatkan. Jangan pernah berfikir bahwa mereka yang hebat-hebat itu memiliki jumlah waktu lebih banyak dari kita.
Perlu diingat bahwa prestasi itu bukan hanya milik bidang akademik, tapi juga milik bidang organisasi dan bidang-bidang lainnya. Penulis sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan mana yang lebih baik, prestasi akademik atau prestasi organisasi?, karena bagi penulis keduanya harus sejalan dan seimbang.
Organisasi secara umum bisa diartikan dengan Suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama’. Dan pendidikan akademik diartikan dengan ‘Pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu, yang mencakup program pendidikan sarjana, magister, dan doktor’.
Dari kedua definisi di atas terlihat jelas bahwa organisasi dan akademik tidak saling bertentangan. Dan jika ditelusuri lebih dalam, dapat kita temukan tujuan yang saling mendukung antara organisasi dan pendidikan akademik.
Kita tidak bisa menafikan bahwa membagi waktu antara pendidikan akademik dan organisasi, faktanya tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan tidak semudah membuat teori. Kita butuh kemauan keras dan latihan membiasakan diri untuk membagi waktu. Terlebih ketika kita terbuai oleh salah satu dari pendidikan akademik dan organisasi.
Ketika kita menekuni pendidikan akademik, seolah rasanya membuang waktu percuma jika kita bergelut di luar pendidikan akademik. Dan ketika kita aktif di organisasi, seakan tidak ada waktu untuk mempelajari dunia akademik. Hingga akhirnya kita berkesimpulan bahwa kita memang tidak bisa menggabungkan antara pendidikan akademik dan organisasi, mau tidak mau harus ada yang dikorbankan. Benarkah kesimpulan tersebut?. Mungkinkah kita bisa berprestasi dalam akademik dan organisasi sekaligus?.
Sah-sah saja kita berkesimpulan seperti di atas, karena memang sebagian besar faktanya seperti itu. Sekarang muncul pertanyaan, kenapa secara teori akademik dan organisasi bisa saling mendukung dan tidak saling mengganggu, tapi secara fakta amat sulit untuk dilakukan.
Menurut penulis hal itu terjadi karena dampak dari organisasi yang kurang berjalan sebagaimana mestinya. Jika organisasi berjalan dengan baik dan semua struktur organisasi bekerja sesuai fungsi dan tugas masing-masing, dan semua dilakukan tepat waktu seperti yang direncanakan, mungkin tidak akan ada yang namanya organisasi berbenturan dengan pendidikan akademik.
Ya sekali lagi saya katakan, itu tidak mudah untuk dilakukan. Tapi di sinilah letaknya seorang organisatoris dituntut untuk bisa menjalankan organisasinya dengan cerdas. Organisasi bukan kerja individu tapi kerja kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Semua unsur organisasi dituntut untuk memahami dan menjalankan dengan baik fungsi dan tugasnya masing-masing.
Sekarang mari kita lihat, benarkah organisasi itu mengganggu pendidikan akademik?. Jika organisasi dijalankan sebagaimana mestinya, masihkah organisasi mengganggu pendidikan akademik?. Dan patutkah kita menyalahkan organisasi itu sendiri?. Jadi, siapakah sebenarnya yang salah?
Pendidikan akademik dan organisasi keduanya memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Untuk meraih tujuan-tujuan tersebut tentu dibutuhkan strategi dan perencanaan matang, agar tercapai tepat pada waktunya.
Tulisan kecil ini hanya sebatas pandangan pribadi penulis saja. Penulis ingin memberikan pandangan terhadap persoalan lapangan, yang dalam pandangan penulis sendiri, masih perlu dibahas lebih lanjut. Semoga bermanfaat.













*  * Mahasiswa Pasca Sarjana al-Azhar

0 comments:

Post a Comment