Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, March 10, 2013

Ibu



Ibu
Oleh : Lilik Tutur Madona*



“Suksesnya seseorang tidak luput dari seorang ibu. Makhluk Tuhan paling sexy yang diberikan rahim untuk kita singgahi. Seseorang yang membuat kita gila, menjaga kita dari rasa takut, mengajarkan kita kekuatan didalam kelembutan, kebijaksanaan didalam kesabaran, dan kasih sayang tiada tara. Menghargai kita lebih dari apapun, menerima kita  apa adanya, atau seseorang yang mencintai kita, melebihi kita mencintai diri.”

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia. 

Kita semua pasti mengetahui dan hafal lirik lagu ini. Lagu diatas menggambarkan tentang kasih sayang seorang ibu yang tiada hentinya tanpa mengharapkan apapun dari kita kecuali kebaikan. Yang berjuang mati-matian mempertaruhkan nyawa demi  melahirkan putra putrinya dengan selamat. Yang membesarkan dan mendidik kita dengan penuh kasih sayang. Curahan kasih sayang ibu sejuk membelai jiwa kalbu, tertulis indah didalam dada, ketulusan mendidik kita semua. Seperti kata pepatah ”kasih ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah”.  Jasa yang sangat besar hingga kita tidak dapat membalasnya dengan harta maupun benda, hanya untaian do’a kepada  Yang Maha Esa. Dikala malam mencekam dan dikala siang menerawang, bayangan wajahnya tidak kunjung hilang dari pelupuk mata dan fikiran, bagaimana mungkin kita lupa kepada sosok perempuan yang satu ini, yang bisa menerima kita apa adanya. Mendengarkan keluh kesah kehidupan yang sedang kita jalani tanpa ada kebosanan bagaikan embun di pagi hari yang selalu menetap dalam hati. Selalu melindungi dan memberikan petuah kepada kita agar terus belajar dengan tekun agar berguna bagi Agama, Nusa dan Bangsa. Sungguh durhaka sekali bagi seseorang yang sukses lalu lupa dengan ibunya, karna faktanya kesuksesan seseorang dimulai dari seorang ibu, mungkin selama ini kita belum menyadarinya. Banyak sekali contoh-contoh perjuangan seorang ibu bagi kesuksesan anaknya, namun kadang kita temui anak-anak yang tidak menyadari perjuangan seorang ibu, bahkan menghilangkan perannya dalam kehidupan. Ada yang malu mempunyai ibu seorang pembantu, cacat fisik atau malu mempunyai ibu yang biasa-biasa saja, padahal tidak ada yang bisa membandingkan perannya dalam kehidupan. Satu orang ibu bisa mengurus dan menjaga sepuluh anak sekaligus, tapi belum tentu sepuluh anak bisa mengurus dan menjaga satu orang ibu. Analoginya seperti ibu jari, penulis ingin mengajak pembaca bermain. Coba sekarang kita kepal kedua tangan kita lalu perhatikan apa yang terjadi. Walaupun bentuknya pendek, buntet, gendut, berbeda dari jari yang lain, ibu jari akan terlihat diluar apabila kita mengepalkan tangan untuk melindungi jari-jari yang lain. Artinya, setinggi dan sesukses apapun seorang anak harus tetap merunduk ketika berhadapan dengan seorang ibu. Karena begitu mulianya posisi seorang ibu, maka pantas saja ada sebuah ungkapan mengatakan : "Surga berada di bawah telapak kaki ibu". Pantas saja Allah SWT menurunkan Firman tentang derajat ibu dan bapak (orang tua) yang ada dalam kitab suci (QS. Luqman: 14).

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.  

Banyak sekali orang-orang besar dan sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat, karna dia percaya akan kekuatan seorang ibu. kekuatan alami yang langsung di berikan oleh Allah SWT. Pembaca pasti pernah mendengar nama Ahmad Syauqi, sastrawan paling tersohor di dunia arab yang lahir di kota Kairo, beliau menulis syair tentang peran seorang ibu dalam pendidikan.

“Seorang wanita (ibu)  adalah lembaga pendidikan, yang jika ia benar-benar mempersiapkan dirinya, berarti  ia telah memepersiapkan sebuah generasi  yang benar-benar digdaya” (Ahmad Syauqi). 

Lalu, sadarkah kita bahwa madrasah utama, guru terbaik, pendidik pertama bagi seorang anak adalah seorang ibu, Ibu adalah lembaga pendidikan pertama bagi setiap generasinya, bahkan pendidikan itu sudah terbina ketika anak tersebut masih dalam kandungan. Dalam sejarah islam, orang-orang besar lahir di bawah bimbingan bijak para ibu. Imam Bukhari menjadi ulama dan pakar hadist yang sukses berkat besarnya perhatian ibunya terhadap pendidikannya. Keberhasilan seorang anak tidak pernah lepas dari pendidikan yang diberikan oleh ibunya, ibunya yang mengarahkannya, mengajarkannya, membimbingnya, mengiringi perkembangannya, dari anak tersebut masih dalam kandungan, hingga anak itu tumbuh dewasa. Bahkan ketika anaknya sudah dewasa pun, seorang Ibu akan terus mendoakannya, menasihatinya, untuk selalu menjadi seorang yang baik, seorang yang cerdas, seorang  manusia yang senantiasa bermanfaat.
Penulis ingin mengajak meresapi arti kasih sayang seorang ibu, bahkan seorang ibu berani berbohong hanya untuk kebaikan seorang anak.  Mungkin pembaca pernah membaca atau mendengar kisah Khalifah Umar Bin Khattab ketika berkeliling kota Madinah yang berniat untuk memantau keadaan masyarakatnya ketika itu, atau bisa di bilang ketika Khalifah Umar Bin Khattab belusukan sekitar kota Madinah dan bertemu dengan seorang ibu yang sedang sibuk menyiapkan masakan untuk anaknya. Beliau berkata : "Wahai ibu, apa yang sedang kau masak untuk anakmu?". Lalu ibu itu berkata: "Aku sedang merebus batu, agar anakku berhenti dari tangisnya dan mengetauhui ada sesuatu yang akan di makan". Ketika itu juga Khalifah Umar Bin Khattab merasa berdosa dan langsung mengambil dan memikul sendiri sekarung gandung dari gudang. Atau pembaca pernah menonton film korea yang berjudul "Ibu" yang menceritakan kasih sayang seorang ibu kepada anknya yang di vonis lumpuh seumur hidupnya. Masih banyak sekali kisah-kisah tentang arti kasih sayang seorang ibu. Tapi dari dua kisah ini kita bisa menyimpulkan bahwa seorang ibu tidak mau sedikitpun menyakiti hati seorang anak.

Pantas saja melalui sebuah riwayat, Rasulullah SAW menjawab pertanyaan dari seseorang tentang urutan siapa saja orang yang harus di hormati dan di muliakan di dunia ini, seperti uraian tanya jawab berikut ini:
Siapa saja orang yang paling berhak aku patuhi ya Rasul?
Rasulullalh menjawab: "Ibumu"
Sudah itu siapa lagi ya Rasul? jawab Rasulullah: "Ibumu"
Sudah itu siapa lagi ya Rasul? jawab rasulullah: "Ibumu"
Sudah itu siapa lagi ya Rasul? jawab rasulullah: "Bapakmu"

Dari uraian tanya jawab di atas, terlihat begitu tingginya derajat dan kemuliaan seorang ibu, bahkan melebihi bapak, tapi bukan berarti mengesampingkan peran seorang bapak. Terlihat dari urutan 1. ibu, 2. ibu, 3. ibu lagi dan bapak di urutan nomor 4. Untuk itu, ini sebagai bahan evaluasi dan renungan untuk kita bersama, termasuk bagi penulis, apakah kita sudah berbakti dan mengabdi kepada ibu bapak kita? apakah kita sudah selalu mengirimkan doa kepada ibu bapak kita, baik yang masih hidup, maupun ibu dan bapaknya yang sudah meninggal?

Karena seperti hadist Rasulullah: "Ridha Allah tergantung ridha kedua ibu bapak, dan murka Allah tergantung murka kedua ibu bapak. Dan surga dibawah telapaK kaki ibu."

Apakah saat ini kita sudah dapat ridha ibu bapak kita, agar juga bisa mendapat ridha Allah SWT?(Wallahualam bissawab)

karna menurut penulis, biasanya orang-orang yang sukses dalam hidupnya, rata-rata mereka memuliakan dan menghormati orang tuanya, terutama ibunya, ibunya, dan ibunya. Penulis juga ingin mengatakan bahwa ibu rumah tangga adalah carrier tertinggi seorang wanita.
Hujamkan mata menantang tata surya. Hentakkan kaki menindas cakrawala.
Pengorbanan benar-benar nyata. Wujudkan dunia berbingkaikan cita.
Kasih sayang, sempurna tanpa dusta. Lembut sutra menjadi fana.
Kuat baja seakan tak bermakna. Jasa tiada tara selalu terjaga.











 * Mantan Gubernur KMB (2010-2011)


Konsolidasi Pendidikan dan Organisasi





Konsolidasi Pendidikan dan Organisasi
Oleh : Ahmad Ribhatullah*




Sedikit mengulas tragedi yang terjadi dikalangan pelajar Indonesia di Mesir, atau lebih akrab di telinga kita dengan sebutan MASISIR. Maka kita akan menemukan dua paradigma atau sudut pandang yang berbeda dalam prioritas akademik dan organisasi. Beranjak dari riset akan dua hal yang berbeda ini, maka saya sebagai penulis akan mencoba mengkajinya berdasarkan pandangan pribadi. Sebagian dari mereka terbuai dengan akademik lalu mengkesampingkan organisasi, begitu juga sebaliknya. Namun tidak sedikit pula yang berhasil memperoleh keduanya dalam tenggang waktu yang bersamaan. 

Pendidikan merupakan hal yang amat penting bagi kehidupan kita. Adapun pendidikan secara umum adalah suatu proses pembukaan jendela mata kita guna melihat, meraba dan menjalani kehidupan ini, sehingga penting halnya bagi kita untuk menjadi orang yang terdidik. Pendidikan bisa kita dapatkan dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan pengetahuan  yang tinggi kita bisa menghidupi diri kita sendiri dan membantu masyarakat yang berada disekitar kita. 

Tidak dapat dipungkiri, bahwasannya organisasi memegang peranan penting bagi ketangkasan seorang mahasiswa. Organisasi dapat membentuk mental kita guna dapat bersosialisasi lebih baik dengan masyarakat, membiasakan diri dalam melahirkan ide-ide cemerlang untuk mempertahankan eksistensi organisasi yang kita geluti, memperkokoh rasa tangung jawab dalam diri kita, mengajarkan kita menyatukan pendapat dari sekian banyaknya pemikiran yang berbeda, dan masih banyak lagi nilai-nilai yang bisa diperoleh apabila terjun ke dalam organisasi. 

Bukan hal yang luar biasa seorang mahasiswa dapat memperoleh nilai yang tinggi, karena fokus mereka tidak terbagi. Mereka memiliki banyak waktu untuk memahami pelajaran, mencari referensi-referensi yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, mengikuti pelajaran tambahan dengan mencari seseorang untuk dijadikan guru baginya, mengulang kembali materi yang dia dapatkan selepas mengikuti kelas di Kampus. 

Dan bukan hal yang bisa dibanggakan ketika seorang aktivis mampu membawa organisasinya pada titik kejayaan. Mendapatkan pengakuan dari khalayak banyak bahwa organisasi yang dia pegang bediri di atas organisasi-organisasi yang ada, namun disisi lain dia tidak dapat mem-pertanggung jawabkan nilai kuliahnya sendiri. 

Hal yang amat membanggakan dan bisa kita jadikan panutan, apabila seorang aktivis dapat  menjalankan organisasi yang dia geluti dengan baik dan memperoleh nilai akademis yang memuaskan. Mempermudah dirinya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari masyarakat dengan keluasan wawasan dan pengetahuan yang ia miliki, menjadi pondasi kuat bagi suatu badan dengan kemampuan organisasi yang dia miliki. 

Adapun hal yang kita perlukan untuk mewujudkan hasil maksimal dari keduanya adalah pemetaan waktu yang bijak. Namun seringkali kita menemukan beberapa kendala dalam pelaksanaannya, dan salah satu kendala yang amat populer dikalangan mahasiswa di Mesir (MASISIR) yaitu dengan hilangnya semangat juang sehingga menimbulkan rasa malas yang sulit ditangani. 

Jika kendala ini menyerang semangat kita dalam menjalani proses pendidikan, maka langkah pertama yang bisa diambil adalah dengan memperbaharui kembali niat kita, membawa pikiran kita pada masa lalu dimana kedua orang tua kita melepas untuk menuntut ilmu diiringi dengan air mata, menyodorkan harapan-harapan mereka agar kelak kita bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi diri kita (secara khusus) dan bagi orang lain (secara umum). Jangan biarkan orang tua kita meneteskkan air mata kekecewaan (yang mengalir akibat ke-tidak berhasilan kita dalam memenuhi harapan mereka) saat menyambut kita setelah sekian lama berpisah dengannya, akan tetapi teteskanlah air mata kebahagiaan dengan mengetahui bahwa kita sebagai anak telah mampu memenuhi harapan mereka dengan baik. 

Apabila langkah ini belum berhasil memecahkan kendala yang kita alami, maka kita bisa mengambil langkah kedua yaitu; dengan menghitung banyaknya kerugian yang kita dapat apabila kita terlalu lama terbujuk dengan rasa malas yang menimpa. Adapun caranya dengan mencoba menghitung kerugian yang kita peroleh dari sisi finansial, semisal kita mendapat pemasukan dari orang tua sebesar Rp1.000.000,00 untuk setiap bulanya yang apabila kita kalikan satu tahun maka akan mencapai nominal Rp12.000.000,00. Jika kita pergunakan jumlah tersebut hanya untuk kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan proses pendidikan yang kita jalani, maka kita akan sangat merugi terlebih lagi kedua orang tua kita, karena mereka harus mengeluarkan jumlah yang sama untuk tahun berikutnya tanpa mendapatkan hasil yang memuaskan dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, pergunakanlah pemasukan yang kita miliki dengan sebijak mungkin agar tidak terjadi kerugian yang menimpa diri kita sendiri dan orang tua. 

Dan jika kendala ini menyerang semangat kita untuk berkecimpung dalam dunia organisasi, maka langkah yang bisa kita ambil yaitu dengan memprediksi kerugian yang kita peroleh jika kita tidak mengikuti kegiatan keorganisasian. Tentu kita  akan menggunakan ilmu yang kita dapat di masyarakat kelak, apabila mental kita tidak terdidik dengan baik karena kurangnya pengalaman organisasi yang kita miliki, maka kita tidak akan mampu menyampaikan ilmu kita pada masyarakat secara maksimal diakibatkan rasa gugup ketika mempresentasikan ilmu yang kita miliki. 

Kita manusia merupakan makhluk sosial, dimana kita akan hidup bermasyarakat. Ada masa dimana kita ditempatkan dalam satu wadah yang terdiri dari beberapa jumlah orang dengan pemikiran yang berbeda, dengan minimnya kemampuan organisasi yang kita miliki maka kita tidak akan mampu bersosialisasi dengan baik. Dalam keadaan ini kita hanya akan menjadi pengikut tanpa kemampuan untuk membangun dan memajukan. 

Jika kita dapat mebuat pemetaan waktu yang bijak dengan management yang tepat, diiringi rasa tanggung jawab yang tinggi dalam menjalaninya, terbebas dari hambatan-hambatan yang mengganggu proses pelaksanaannya, maka kita akan dapat memperoleh nilai-nilai positif yang amat berguna bagi kehidupan kita kelak, baik itu dari sisi akademik maupun organisasi. Dengan dua keterampilan tersebut kita akan mampu melihat dunia ini lebih jelas, menjalani kehidupan ini dengan lebih bersahaja dan mampu menaungi masyarakat di sekitar kita.













* Mahasiswa al-Azhar, Syari'ah Islamiyah Tingkat III

Wednesday, March 6, 2013

Saatnya Memperjelas Statement “ ISLAM YES, POLITIK NO”.



Saatnya Memperjelas Statement “ ISLAM YES, POLITIK NO”.
Oleh: Ikhsanuddin*


MUQODDIMAH 

“Islam Yes, Politik No”. Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar atau membaca statement tersebut. Ya, itu adalah pernyataan dari seorang cendekiawan muslim Indonesia, Nurcholis Madjid (alm). Walaupun mungkin bisa dikatakan sudah lama, namun statement atau jargon ini ternyata masih ada pengaruhnya hingga saat ini. Sebagian elemen masyarakat masih memegang teguh pemisahan agama dan politik, karena melihat realitas perpolitikan yang terjadi saat ini penuh dengan kekotoran yang malah di khawatirkan akan menodai kesucian agama (Islam). Namun apakah benar Islam tidak mengenal politik?

Ada baiknya kita meninjau pengakuan jujur dari seorang orientalis: John L. Esposito dalam Islam and Politics. Dia  mengakui realitas sejarah umat Islam mulai masa awal hingga keruntuhannya tetap berpaku kepada aqidah Islam. Dia menyatakan bahwa Agama (Islam) memberikan pandangan dunia, gagasan pengertian untuk kehidupan pribadi dan bersama, baik pada masa khulafaurrasyidin, Umayyah dan Abbasiah, dasar ideologi masyarakat maupun negara adalah Islam. Lebih lanjut dia merincikan bahwa legitimasi dan otoritas penguasa, lembaga-lembaga peradilan, pendidikan dan sosial berakar dan bermuara pada Islam. Dari pengakuan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa seorang orientalis pun tidak membutakan matanya akan Islam sebagai agama spiritual juga agama politik.

Begitu juga dengan seorang tokoh ilmuan di Universitas Yordania, Fathi al-Durayni dalam bukunya, Khasa’is al-Tashri‘ al-Islami fi al-Siyasah wa al-Hukm, berpendapat bahwa Islam telah menimbulkan satu revolusi terhadap konsep agama. Hal inilah yang membedakan Islam dengan agama lainnya, Islam menghubungkan agama dengan politik, agama dengan sains atau keilmuan, dunia dengan akhirat,  aspek atau hal-hal yang biasanya dilihat secara terpisah. Beliau juga menjelaskan bahwa segala aktivitas seorang Muslim khususnya aktivitas politik dihitung sebagai ibadah.

Pendapat al-Durayni ini sejajar dengan ungkapan Ibnu Taymiyyah, bahwa kekuasaan politik merupakan min a‘zam wajibat al-din (satu kewajiban agama yang utama). Pandangan serupa juga dikemukakan oleh al-Imam al-Qardawi, didalam bukunya as-siyaasah as-syar’iyyah. Yang mengatakan bahwa terdapat hubungan simbiosis antara Islam dengan politik sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari hakikat Islam itu sendiri. Penolakan dan pemisahan politik daripada Islam, menurut beliau merupakan satu kejahilan dan miskonsepsi terhadap hakikat Islam.




DEFINISI POLITIK


Kata politik berasal dari bahasa Yunani atau bahasa latin yaitu: politicos atau ploiticus yang artinya relating to citizen. Diartikan juga sebagai hubungan sosial yang melibatkan otoritas atau kekuasaan dan mengacu pada peraturan urusan publik dalam suatu unit politik dengan metode dan taktik yang digunakan untuk merumuskan dan menerapkan kebijakan. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, politik diartikan sebagai (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan. Politik diartikan juga sebagai segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Dari pengertian diatas maka istilah politik dilihat secara bahasa menekankan kepada kekuasaan, peraturan urusan publik, penerapan kebijakan, bentuk dan sistem pemerintahan.
Sedikit berbeda, politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama Salafush Shalih dikenal istilah siyasah syar’iyyah, misalnya dalam al-Muhith, siyasah diambil dari kata (sasa–yasusu). Dalam kalimat (Sasa ad-Dawaba Yasusuha Siyasatan) berarti: Qama ‘alaiha wa Radlaha wa Adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan Sasa al-Amra artinya Dabbarahu (mengurusi/mengatur perkara). Kata Sasa-Yasusu-Siyasatan yang berarti memegang kepemimpinan masyarakat, menuntun  atau melatih hewan dan mengatur dan memelihara urusan.

Jika dalam bahasa Inggris, politik identik dengan kekuasaan, maka dalam bahasa Arab arti Siyasah lebih menekankan kepada pengurusan urusan masyarakat. Perbedaan penekanan dalam mengartikan politik, membawa konsekuensi pelaksanaan perpolitikan dewasa ini. Maka wajar saja jika perpolitikan yang terjadi sekarang ini lebih mengedepankan perebutan kekuasaan daripada pengurusan urusan rakyat. Fungsi politik inilah yang saat ini merajalela, yang lebih mengedepankan masalah politik berkutat dalam masalah siapa mendapat apa? kapan dan bagaimana?. Inilah yang digunakan oleh para politikus saat ini sebagai dalil untuk meraih kepentingan pribadi, kelompok, dan pemilik modal. Padahal jikalau kita ulas lebih dalam tentang pengertian politik menurut Islam hal-hal inilah yang harus dihindari oleh politikus-politikus Islam.

POLITIK ISLAM 

Politik (siyâsah) adalah pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri. Politik dilaksanakan oleh Negara dan umat, karena negaralah yang secara langsung melakukan pengaturan ini secara praktis, sedangkan umat mengawasi negara dalam pengaturan tersebut. Maka daripada itu, politik Islam berarti pengaturan urusan umat di dalam dan luar negeri dengan hukum Islam.


        Definisi ini juga diambil dari hadits-hadits yang menunjukkan aktivitas penguasa, kewajiban mengoreksinya, serta pentingnya mengurus kepentingan kaum muslimin.
Rasulullah saw bersabda :
“Seseorang yang ditetapkan Allah (dalam kedudukan) mengurus kepentingan umat, dan dia tidak memberikan nasihat kepada mereka (umat), dia tidak akan mencium bau surga” (HR. Bukhari).

           Dari Abu Hurairah dari Nabi saw. bersabda:
"Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya (tasûsûhum) oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan banyak khalifah'. (H.R. Imam Muslim dari Abi Hazim).

Kemudian Rasulullah juga bersabda di dalam hadist lain, tentang keutamaan penyelarasan urusan dunia dan akhirat.
"Barang siapa yang bangun di pagi hari dan dia hanya memperhatikan urusan dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka dia tidak termasuk golongan mereka (Muslimin). (H.R. Thabrani).

Pengertian diatas merupakan pengertian syar’i karena diambil dari dalil-dalil syara’. Dari definisi ini pula, dapat kita klasifikasikan bahwa politik Islam melibatkan dua pelaku, yaitu Negara dan umat (rakyat), kemudian meliputi pengaturan dalam negeri dan luar negeri, dan yang terakhir adalah sumber legislasinya adalah hukum Islam. Terkait dengan legislasi, Islam menetapkan bahwa per-undang-undangan harus berasal dari Sang Pencipta (Allah swt), karena Dialah yang telah menciptakan alam semesta dan manusia berikut aturannya. Maka yang berhak mengeluarkan hukum atas sesuatu (asyâ) dan perbuatan (af’âl) adalah Allah swt sebagai Pembuat Hukum (al Syari’).

Sebagaimana termaktub di dalam al-Qur’an :
قال تعالى :( إن الحكم إلا لله يقص الحق وهو خير الفاصلين )
Yang artinya :
“Menetapkan hukum hanyalah milik Allah. Dialah menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang terbaik.” (QS, Al-An’am : 57). 

Atas dasar inilah, maka dalam Islam kedaulatan berada ditangan Syara’ bukan ditangan rakyat, dimana manifestasinya tertuang di dalam al-Qur’an dan Hadits serta apa yang ditunjuk atau yang diterangkan oleh keduanya berupa Ijma sahabat dan Qiyas syar’iyyah. Ke-empat sumber rujukan tersebut dinamakan sebagai sumber hukum syara’ (syari’at Islam). Mayoritas ulama Islam bersepakat atau tidak berbeda pendapat dalam menentukan siapakah al-Hakim (Pembuat Hukum) dalam Islam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam al Syaukani, beliau menyatakan tidak adanya perselisihan dalam masalah ini.

KESIMPULAN 

Mendefinisikan politik Islam dengan apa yang terjadi dengan perpolitikan sekarang ini malah akan membawa kepada kekaburan pengertian politik yang diambil oleh Islam. Secara bahasa pun, Islam mengambil pengertian politik dari kata Siyasah yang berarti pengaturan urusan umat, bukan pengertian politik saat ini yang menekankan kepada kekuasaan. Maka wajar saja jika umat Islam yang ingin menjaga kemurnian ajarannya (agamanya) menolak politik yang sekarang diterapkan oleh negeri ini juga oleh parpol-parpol Islam. Kekhawatiran menjadikan agama sebagai tameng atau sebagai pelindung dalam meraih kekuasaan politik akhirnya menjadi kenyataan. Alih-alih ingin menerapkan syariah Islam melalui jalur politik, namun yang diambil adalah politik dalam bingkai sekuler yang mengakibatkan dirinya terjerumus dalam kekacauan.

Perbedaan penekanan dalam penggunaan istilah antara politik dan Siyasah, bukan berarti harus ada penggantian dari kata politik dengan kata Siyasah. Karena secara subtansi pengertian keduanya diambil dari realitas aktivitas politik yang sebenarnya, yaitu pengaturan urusan umat baik di dalam ataupun di luar negeri. Perbedaannya hanyalah dari sisi penggunaan aturan dan hukum yang berbeda sesuai dengan ideologi dan kepercayaannya. Wallahu’alam.














* Mahasiswa Pasca Sarjana Al-Azhar-Cairo, Syari'ah Islamiyah