Showing posts with label Ke-Banten-an. Show all posts
Showing posts with label Ke-Banten-an. Show all posts

Sunday, March 10, 2013

Hj. Ratu Atut Chosiyah; Ratu Kepemimpinan Perempuan



Hj. Ratu Atut Chosiyah; Ratu Kepemimpinan Perempuan
Oleh : Iwan Abdul Aziz*


Dia perempuan pertama yang menjabat gubernur di Indonesia. Sejarah telah mencatat dan akan terus mencatat kiprah Gubernur Provinsi Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah, SE, sebagai ratu yang menginspirasi perempuan Indonesia menjadi pemimpin dalam arti sesungguhnya, tidak sekadar menjajarkan diri dengan kaum pria. Dia pemimpin (perempuan) perkasa dari Banten.
Kata 'Ratu' yang mengawali nama Gubernur Provinsi Banten, tampaknya tidak sekadar nama untuk disebutkan, tetapi sekaligus juga menjadi predikat yang mencitrakan kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan di daerah hasil pemekaran Provinsi Jawa Barat. Perempuan kelahiran 16 Mei 1962 itu tidak hanya menjadi 'Ratu' di jalur penghubung perdagangan Sumatera-Jawa, tetapi juga menjadi 'ratu' yang mempelopori kepemimpinan kaum perempuan sebagai gubernur di Indonesia.
Bagaimana tidak, dari sedikit perempuan Indonesia yang berhasil menduduki jabatan strategis dalam pemerintahan Indonesia saat ini dan di masa lalu, Ratu Atut Chosiyah, SE, menjadi satu-satunya perempuan di Indonesia yang pernah menduduki jabatan gubernur. Sebuah prestasi yang pantas diapresiasikan. Dan yang tidak kalah pentingnya, putri pendekar banten ini ditakdirkan menjadi seorang ratu sekaligus ibu untuk membesarkan dan membina Provinsi Banten semenjak kelahirannya.
Tidaklah berlebihan menyebutkan bahwa nama atau predikat 'Ratu' sudah ditakdirkan untuk ia sandang. Kecocokan antara nama dengan predikat, bertautan pula dengan penampilannya yang cantik, anggun dan ramah. Keratuan perempuan yang bersuamikan Drs. H. Hikmat Tomet ini selalu terlihat dimanapun ia berada. Ia selalu tidak lupa melemparkan senyum manisnya kepada setiap orang yang ditemuinya, kapan dan dimanapun.
Layaknya seorang ratu, perempuan dengan tinggi semampai itu selalu tampil segar. Tentu berkat upayanya dalam menjaga kesehatan dan kebugaran, agar selalu tampil prima dan fresh saat menjalankan tugas juga pelayanannya terhadap rakyat. Upaya tersebut merupakan buah kesadaran bagi perempuan 3(tiga) anak ini akan kapasitasnya sebagai seorang pamong yang harus melayani rakyat dari berbagai kalangan, kapanpun ia dibutuhkan.
Memperhatikan perempuan berpenampilan bak artis modeling seperti Ratu Atut Chosiyah, SE, sejurus akan muncul pertanyaan, bagaimana ia memimpin ribuan staf yang bekerja di Gubernuran Banten? Namun sejurus kemudian, pertanyaan itu akan segera terjawab sendiri bahwa aktivis pelestarian seni bela diri khas Banten ini tidak berbeda dengan pemimpin sekelasnya. Ia harus menerapkan disiplin kerja, mendorong terbangunnya dedikasi dan loyalitas yang tinggi, serta memacu integritas setiap karyawan yang bekerja di Pemerintahan Provinsi Banten.
Walaupun berwajah cantik dan manis, wanita yang gemar berolahraga ini tetap tidak dapat menyembunyikan citra kepamongannya yang berdedikasi dan berkarakter 'keras'. Di balik kulit wajahnya yang putih dan lembut, perempuan yang gemar berorganisasi ini tetap saja menimbulkan imej dan keberadaanya sebagai figur pemimpin yang berwibawa.
Kata-kata yang meluncur dari bibirnya juga menunjukkan keberadaan perempuan kelahiran Ciomas-Serang, Banten ini sebagai 'ratu' yang harus berbicara apa adanya, polos, dan tidak dibuat-buat. Pola berbicara itu mengindikasikan bahwa perempuan berlatar belakang pengusaha itu, selalu mengedepankan sikap yang jujur dan tidak pandai 'mengolah' kata-kata untuk mencari alasan atau pembenaran suatu hal atas suatu kejadian tertentu.
Namun jangan lupa, dengan tatapan matanya yang tajam pada setiap orang yang menjadi lawan bicaranya, menunjukkan kewaspadaan yang tinggi dari perempuan politisi Partai Golkar ini. Ia akan menyimak dan merespon kata demi kata yang diungkapkan lawan bicaranya dengan lembut, namun kelembutan itu tidak akan dengan mudah mengubah prinsip-prinsip yang terbangun dalam pemikirannya.
Perempuan Perkasa dari Banten
sejarah telah mencatat dan terus mencatat kiprah Ratu Atut Chosiyah, SE, dalam memperjuangkan kepemimpinan perempuan dalam politik kekuasaan, tidak sekadar menyejajarkan kaumnya dengan kaum pria. Perempuan yang menempuh pendidikan menengah atasnya di SMA 12 Bandung ini, mampu menginspirasi dan terus menginspirasi kaum perempuan Indonesia di seluruh penjuru tanah air untuk berjuang mengembangkan diri dan tampil menjadi sosok perempuan yang berprestasi untuk membangun keluarga Indonesia, masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Keberadaan Ratu Atut Chosiyah, SE, baik sebagai Gubernur Provinsi Banten, seorang ibu dan perempuan Indonesia banyak memberi pelajaran berharga, khususnya bagi kaum perempuan Indonesia. Tentu hal ini tidak datang begitu saja dari langit, tetapi hasil dari sebuah perjuangan keras dengan keringat bahkan air mata.
Satu hal yang terpenting dan menjadi pelajaran berharga dari perjalanan hidup perempuan lulusan Akuntansi Perbankan ini, adalah bahwa kaum perempuan di negeri Indonesia masih harus terhalang dengan kodratnya jika ingin meraih jabatan publik strategis, seperti kepala daerah. Itu dialami sendiri oleh perempuan lulusan Akademi Akuntansi Perbankan ini, saat mengajukan pencalonan dirinya menjadi calon wakil gubernur (Cawagub) Banten tahun 2001 lalu untuk mendapingi H. Djoko Munandar sebagai calon gubernur (Cagub).
Pencalonan dirinya saat itu langsung diwarnai dengan pro kontra, saat beberapa ulama menolak kepemimpinan perempuan di Provinsi yang saat itu baru saja dimekarkan. Alasan penolakan itu didasarkan pada kapasitas perempuan yang tidak boleh menjadi imam, sehingga tidak boleh menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah.
Tidak terukur betapa pedihnya hati Anggota Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten ini mendapat penolakan sebagian kecil masyarakat Banten saat itu. Ia sampai menitikkan air mata di tengah-tengah perenungan atas kodradnya. Ia terus bertanya dalam hati, apakah karena kodratnya sebagai seorang perempuan, harus menjadi alasan untuk tidak boleh memimpin? Penolakan ini pun sempat membuat nyalinya ciut beberapa saat.
“Tetapi, tidak semua ulama atau pemimpin pesantren berpandangan demikian. Ada pemimpin pesantren yang sangat tradisional, bahkan mesjidnya diharamkan menggunakan pengeras suara, justru tidak menyetujui pandangan yang menolak kepemimpinan perempuan. Pemimpin pesantren ini juga mengutip salah satu ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Islam tidak menolak kepemimpinan perempuan.” tutur angggota Angkatan Muda Siliwangi Provinsi Banten ini.
 Pandangan ulama yang terakhir ini bak oase di tengah gurun bagi Ratu Atut Chosiyah, SE. Tulang-tulangnya yang sempat lemas mendengar penolakan kepemimpinan perempuan, segera kokoh kembali. Nyalinya yang sempat ciut segera berubah menjadi keberanian luar biasa untuk membuktikan dirinya berada di jalan yang benar.
Ternyata waktu berpihak padanya. Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadinda) Provinsi Banten ini berhasil menjadi Wakil Gubernur Provinsi Banten pertama di bawah kepemimpinan Gubernur H. Djoko Munandar, melalui sebuah proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang berlangsung demokratis.
Disamping itu dengan tutur sapanya yang lembut, namun tetap "perkasa" menyatakan kebenaran yang ada dalam hatinya, akhirnya mampu melembutkan hati orang-orang yang sebelumnya tidak setuju dengan kepemimpinan perempuan sebagai Wakil Gubernur Provinsi Banten. "Derajat seseorang tidak ditentukan dari jenis kelamin laki-laki atau perempuan, tetapi amal ibadahnya."
Perjuangan keras perempuan yang menghabiskan masa kanak-kanaknya di Ciomas-Banten itu sesungguhnya sudah dimulai sejak masa mudanya. Tentu, sebagian besar perempuan Indonesia berharap Ratu Atut Chosiyah terus berkiprah mempelopori perjuangan emansipasi perempuan di tanah air. Kelak, sejarah akan menyebutnya "Perempuan Perkasa dari Banten".
Keperkasaan perempuan yang bersuamikan Drs. H. Hikmat Tomet ini, sebenarnya tidak hanya terlihat dari keberaniannya mencalonkan diri sebagai calon wakil Gubernur Banten tahun 2001 lalu. Mantan Anggota Gabungan Pengusaha Seluruh Indonesia (Gapensi) Kabupten Serang itu juga terlihat perkasa dalam menggeluti profesi sebagai pengusaha maupun dalam organisasi yang digelutinya.
Pelajaran lainnya yang bisa dipetik dari mantan anggota Gabungan Pengusaha Seluruh Indonesia (Gapensi) Kabupten Serang adalah keberaniannya yang luar biasa. Dapat dibayangkan, perempuan yang menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1974 ini sebenarnya tidak memiliki banyak pengalaman dengan birokrasi saat itu, bahkan tak satu pun diantara anggota keluarganya yang menjadi pegawai negeri. Akan tetapi dengan gagah perkasa, ia tetap maju sebagai calon Wakil Gubernur Banten.
Disamping itu, perempuan yang menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1977 pasti mengetahui bahwa tidak akan mudah memimpin Provinsi Banten yang baru saja dimekarkan dari Provinsi Jawa Barat saat itu. Tetapi, Dewan Penasehat Asosiasi Kontraktor Air Indonesia (AKAIDO) Provinsi Banten percaya, dengan pengalaman entrepreneurnya yang sudah puluhan tahun dan pengalaman berorganisasi yang ditekuninya selama ini, ia berharap akan tetap mampu menjalankan tugasnya sebagai Wakil Gubernur di Provinsi Banten.
Keperkasaan 'Ratu' yang menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD Negeri Gumulung, sesungguhnya telah terlihat sejak masih menjadi pengusaha. Ia dikenal sebagai seorang entrepreneur yang ulet dan berpendirian teguh. Sebagai seorang kontraktor, kinerja perempuan yang hijrah ke Bandung untuk menyelesaikan pendidikan menengah dan atasnya pada tahun 1975, melebihi kontraktor laki-laki. Jika ada tawaran pekerjaan, baik milik pemerintah maupun swasta, perempuan yang menyelesaikan pendidikan menengahnya dari SMP Negeri 11 Bandung pada tahun 1977 tersebut, selalu berusaha dengan kerasnya untuk mendapatkan pekerjaan itu.
Lalu, bagaimana pemimpin perempuan yang menerima penghargaan Anugerah Citra Kartini 2003 ini memulai tugas-tugas birokrasinya, diantara minimnya pengalaman di bidang birokrasi? "Saya betul-betul belajar hingga satu tahun untuk mengetahui seluk beluk birokrasi. Saya harus membaca buku-buku tentang organisasi pemerintahan dan birokrasi.
“Alhamdulillah, saya akhirnya benar-benar mengerti apa itu birokrasi dan apa yang harus saya lakukan dengan posisi saya," tegas Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Banten. Oleh karena itu, perempuan yang akrab dipanggil "Ibu Ratu" tidak pernah menunjukkan mimik wajah yang kelelahan dalam melayani rakyatnya, walaupun sesungguhnya ia sangat kecapaian karena disibukkan oleh pekerjaan. Kiranya sangat dapat dipahami bila waktu istirahat menjadi barang yang sangat 'mewah' bagi perempuan berputra dua, Andika Hazrumi dan Ananda Trianh Salichan serta berputri satu, Andiara Aprillia.
Maklum, kesibukannya menjadi sangat tinggi sejak ditinggal pergi oleh gubernur, yang sebelumnya mengomandoi pemerintahan Provinsi Banten. Kini, aktivis pelestarian seni budaya Banten itu harus mengerjakan sendiri menejemen pemerintahan Provinsi Banten di tengah-tengah penyelenggaraan pembangunan yang berdenyut semakin kencang.
Dari Pengusaha Menjadi Pamong
Seusai menyelesaikan pendidikan tingginya, Ratu Atut Chosiyah, SE, mendirikan sebuah perusahaan miliknya sendiri. Ia berharap dapat mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang entrepreneur yang tergolong sukses di Provinsi Banten. Dengan tangan lembutnya, Ratu Atut Chosiyah berhasil menakhodai perusahaannya hingga menjadi sebuah perusahaan berkelas dan cukup dikenal di Provinsi Banten. Keberhasilan dalam membangun perusahaannya dari titik nol, tidak terlepas dari tangan dinginnya dan kerja keras serta dedikasinya yang tinggi untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. (TIC/dari berbagai sumber). Dari PesonaGetar.

* Sesepuh KMB

Wednesday, March 6, 2013

Peran K & J di Banten



Peran K & J di Banten
Oleh : Iwan Abdul Aziz*



Di Banten yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama, sudah sewajarnya kyai menempati kedudukan yang signifikan dalam masyarakat. Kyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional, tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. Kekuasaannya seringkali melebihi kekuasaan pemimpin formal, terutama di pedesaan. Pengaruh kyai melewati batas-batas geografis pedesaan berdasarkan legitimasi masyarakat untuk memimpin upacara-upacara keagamaan, adat dan menginterpretasi doktrin-doktrin agama. Selain itu, seorang kyai dipandang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual karena kedekatannya dengan Sang Pencipta. Kyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren, juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. Penampilan kyai yang khas merupakan simbol-simbol kesalehan. Misalnya, bertutur kata lembut, berperilaku sopan, berpakaian rapih dan sederhana, serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Karena itu, perilaku dan ucapan seorang kyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ia memiliki jaringan komunikasi yang sangat luas dengan berbagai lapisan masyarakat. Jaringan itu terbentuk melalui organisasi-organisasi keagamaan dan masyarakat, partai politik, guru-murid dan tarekat. Di samping kyai, Jawara merupakan kelompok lain yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. jawara dikenal sebagai seorang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatan-kekuatan untuk memanipulasi kekuatan supranatural (magic), seperti penggunaan jimat, sehingga ia disegani oleh masyarakat. Sosok seorang jawara memiliki karakter yang khas. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Karena itu, bagi sebagian masyarakat, jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian, agresif, sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong), terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok, untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan supranatural.

Peran Sosial Kyai Peran-peran sosial keagamaan kyai di Banten dapat dirincikan dengan beberapa bagian, yaitu:

A. Guru Ngaji
Peran kyai yang paling awal adalah mengajarkan pembacaan al-Qur’an dengan baik kepada para santrinya. Tugas kyai dalam hal ini adalah mengajarkan pembacaan huruf-huruf hijâiyyah dan kaidah-kaidah pembacaan al-Qur’an yang benar, yang dikenal dengal ‘ilm tajwîd. Dalam tahapan yang lebih maju kyai mengajarkan tentang beberapa metode pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dengan suara indah, yakni untuk para qâri dan qâriah yang memiliki bakat suara yang baik. Selain itu juga para qâri dan qâriah diajarkan aliran-aliran atau madzhab-madzhab pembacaan ayat-ayat al-Qur’an. Sekarang ini, peran guru ngaji tidak hanya dilakukan oleh seorang kyai yang memiliki pesantren, tetapi juga oleh para santri, yang biasanya dipanggil ustâdz, yang pernah mengeyam pendidikan pesantren dan memiliki kemampuan membaca al-Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah pembacaannya dalam ‘lmu tajwîd. Pelaksanaan pengajarannya biasanya diselenggarakan di rumah ustâdz atau di mushola yang terdekat dengan kediamannya. Pengajaran al-Qur’an dilakukan pada waktu-waktu selesai sholat lima waktu, seperti: setelah sholat magrib, subuh dan ashar. Para pesertanya biasanya anak-anak dan kaum remaja di sekitar kediaman ustâdz tersebut.

B. Guru Kitab.
Seorang santri yang telah lancar membaca ayat-ayat al-Qur’an, mulai berkenalan dengan kitab-kitab Islam klasik. Memang tugas utama seorang kyai di pesantren adalah mengajarkan kitab-kitab Islam klasik, terutama karangan-karangan ulama fiqh yang bermadzhab Syafi’i. Pengajaran membaca al-Qur’an, meskipun dilaksanakan di pesantren-pesantren, yang biasanya masih kecil dan belum terkenal, sebagai dasar dari suatu proses pendidikan, bukan tujuan utama sistem pendidikan pesantren. Tujuan utamanya adalah setiap santri diharapkan memiliki kemampuan dalam memahami kitab-kitab Islam klasik, yang dikenal dengan kitab kuning.
Kemashuran seorang kyai dan pesantren ditentukan dari kemampuannya dalam memahami isi dan memberikan pengajaran tingkatan kitab-kitab klasik tersebut. Seorang kyai yang memimpin sebuah pesantren yang kecil dan kurang terkenal mengajar sejumlah kecil santri tentang beberapa kitab dasar. Sedangkan kyai yang terkenal dan kharismatik biasanya memiliki sebuah pesantren yang cukup besar dengan mengajarkan sejumlah santri yang cukup banyak tentang kitab-kitab besar.



C. Guru Tarekat
Seorang kyai yang kharismatik selain mengajarkan kitab-kitab klasik, seperti yang telah diterangkan terdahulu, juga mengajarkan praktek tarekat. Pengajaran tarekat di Banten memiliki sejarah yang sangat panjang. Sebuah “pesantren” tua yang terkenal bernama Karang, yang terletak di sekitar Gunung Karang, sebelah barat kota Pandeglang sekarang diduga telah mengajarkan tarekat Qodariyah. Dalam Serat Centhini, dijelaskan bahwa sang pertapa yang bernama Dandarma, mengaku telah belajar tiga tahun di Karang di bawah bimbingan seorang guru “Seh Kadir Jalena”; yang diduga dimaksudkan ia belajar ilmu atau ngelmu yang dikaitkan dengan sufi besar Abd al-Qadir Al- Jailani. Hal tersebut juga dikuatkan dengan tokoh utama dalam Serat Centhini, Jayengresmi alias Among Raga yang berguru di sebuah perguron di Karang di bawah bimbingan seorang guru yang berasal dari Arab bernama Syaikh Ibrahim bin Abu Bakar, yang lebih dikenal sebagai Ki Ageng Karang. Oleh karena itu wajar apabila para tarekat sudah sangat dikenal di lingkungan istana kesultanan Banten semenjak awal didirikannya kesultanan itu. Pendiri kerajaan Banten, Maulana Hasanuddin, telah dibai’at untuk menganut dan mempraktekkan wirid tarekat Naqsabandiyah.

D. Guru Ilmu Hikmah (Ilmu Ghaib).
Para kyai yang menjadi mursyid suatu tarekat tidak hanya dikenal sebagai pemimpin atau guru tarekat tetapi juga dikenal sebagai guru ilmu hikmah atau ilmu-ilmu ghaib. Banten hingga kini memiliki reputasi yang cukup dikenal sebagai daerah tempat bersemayamnya ilmu-ilmu gaib sehingga tidak sedikit orang Banten yang memanfaatkan reputasi ini dengan bertindak sebagai juru ramal, pengusir setan, pengendali roh, pemulih patah tulang, tukang pijat dan tabib, pelancar usaha untuk mendapat kekayaan, kedudukan dan perlindungan supranatural serta kedamaian jiwa. Kyai yang dikenal sebagai guru ilmu hikmah di Banten adalah Ki Armin (K.H. Muhamad Hasan Amin) dari Cibuntu, Pandeglang. Beliau adalah kemenakan dari Kyai Asnawi Caringin, guru tarekat Qodariyyah wa Naqsabandiyah yang sangat terkenal di Banten. Banyak cerita yang tersebar di kalangan rakyat tentang kekuatan-kekuatan ajaib diseputar kyai ini, seperti kemampuannya untuk melihat apa yang belum terjadi, karier yang cepat atau kekayaan yang datang secara tiba-tiba yang terjadi kepada beberapa orang yang telah mendapatkan restunya. Kyai lain yang juga dikenal memiliki ilmu hikmah adalah abuya Dimyati, yang memimpin sebuah pesantren di Cidahu, Pandeglang.

E. Mubaligh.
Seorang kyai tidak hanya tinggal diam di pesantren mengajarkan kitab-kitab klasik kepada para santrinya atau menetap di suatu tempat dan umatnya datang untuk minta nasehat, doa dan kebutuhan praktis lainnya. Kyai juga aktif melakukan ceramah agama kepada masyarakat luas secara berkeliling, sehingga disebut dengan mubâligh (orang yang menyampaikan pesan agama Islam).
Dalam pemberontakan di Cilegon yang terjadi pada tahun 1888, peran para mubâligh sangat penting dalam memobilisasi massa untuk melakukan pemberontakan. Para kyai, yang terdiri dari para guru tarekat, para syarîf dan sayyid, banyak berkhutbah secara berkeliling untuk melakukan pembinaan kerohanian masyarakat. Disadari, hal tersebut turut memberikan pengaruh yang sangat besar dalam meningkatkan kehidupan kerohanian rakyat. H. Udi Mufrodi, salah seorang kyai, sering memberikan ceramah keagamaan pada berbagai acara keagamaannya di wilayah Banten dan daerah-daerah lain seperti Lampung dan Jakarta. Menurutnya bahwa untuk menjadi penceramah/mubâligh tidak hanya memiliki kemampuan memahami pesan-pesan agama, retorika yang baik tetapi juga harus mampu memahami kehendak masyarakat dan memiliki ilmu-ilmu batin. Sebab, menurutnya menjadi mubâligh itu penuh dengan tantangan, karena mungkin pesan-pesan yang disampaikan itu banyak bersinggungan dengan kepentingan seseorang atau kelompok tertentu.


Peran Sosial Jawara
Adapun peran sosial yang sering dimainkan oleh para jawara diantaranaya adalah :
A.      Jaro.
Di daerah pedesaan di wilayah Banten terdapat pengurus desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa yang sering disebut jaro. Seorang jaro memimpin sebuah kejaroan (kelurahan). Pada zaman Kesultanan Banten, kepala desa (jaro) diangkat oleh Sultan. Tugas utama jaro adalah mengurus kepentingan kesultanan, seperti memungut upeti dan mengerahkan tenaga untuk kerja bakti. Dalam pekerjaan sehari-harinya, seorang jaro dibantu oleh pejabat-pejabat, yakni: carik (sekretaris jaro), jagakersa (bagian keamanan), pancalang (pengantar surat), amil (pemungut zakat dan pajak), merbot atau modin (pengurus masalah keagamaan dan mesjid).


B.       Guru silat.
Sejarah ilmu persilatan di Banten memiliki akar yang sangat panjang. Di dalam Serat Centhini disebutkan bahwa pada masa pra-Islam telah dikenal istilah “paguron” atau “padepokan” di daerah dekat sekitar Gunung Karang, Pandeglang. Dalam masyarakat Banten dikenal berbagai macam perguron, seperti Terumbu, Bandrong, Paku Banten, Jalak Rawi, Cimande, Jalak Rawi, si Pecut dan sebagainya. Setiap perguron memiliki jurus-jurus dan karakteristik yang berbeda-beda bahkan sejarah kelahirannya. Kini semua perguron tersebut ada dalam sebuah P3SBBI (Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten Indonesia) di bawah pimpinan H. Tb. Chasan Sochib.

C.      Guru Ilmu Batin (Magis)
Seorang jawara yang terkenal biasanya selain memiliki kemampuan bela diri yang baik juga memiliki ilmu “batin” atau magis, yakni kemampuan untuk memanipulasi kekuatan supranatural untuk memenuhi keputusan praktisnya, seperti kebal dari berbagai senjata tajam, tahan dari api, juru ramal, pengusir jin atau setan, pengendali roh dan pengobatan, seperti patah tulang dan tukang pijit. Kecenderungan terhadap kekuatan supranatural seperti di daerah Banten ini, memang memiliki akar yang sangat dalam. Sebelum Islam datang ke daerah ini sudah ada para resi yang melakukan tapa, yakni sebuah praktik meditasi untuk mendapatkan kesaktian. Bahkan, diceritakan pula bahwa Sultan Hasanuddin sebelum menguasai daerah Banten ini melakukan tapa di tempat-tempat yang selama ini dianggap sebagai pusat kosmis di Banten, yakni Gunung Pulosari, Gunung Karang dan Pulau Panaitan sebelum ia berangkat ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Bentuk-bentuk elmu yang sering dipergunakan para jawara adalah brajamusti (kemampuan untuk melakukan pukulan dahsyat), ziyad (mengendali sesuatu dari jarak jauh), jimat atau rajah untuk mencari kewibawaan, kekayaan atau dicintai seseorang, putter gilling (untuk memutar kembali atau menemukan kembali orang yang hilang atau kabur), elmu (untuk menaklukan binatang yang berbisa atau berbahaya) dan sebagainya.

D.      Pemain Debus (Seni Budaya Banten)
Peran jawara yang masih dekat dengan kesaktian adalah permainan debus. Permainan debus ini banyak dilakukan oleh para jawara, yang dianggap sudah memiliki kesaktian yang cukup. Jadi tidak semua jawara dapat melakukan permainan debus, karena bagi yang tidak mampu justru akan mendatangkan bencana atau kecelakaan.
Di Banten ada beberapa macam debus, yakni debus al-madad, surosowan dan langitan. Dinamakan debus al-madad (artinya meminta bantuan atau pertolongan) karena para pemainnya setiap kali melakukan aksinya selalu mengucapkan kata-kata al-madad, yang seolah menggambarkan bahwa tindakan ini didasarkan atas pertolongan dari Allah SWT. Debus al-madad merupakan debus yang paling berat karena untuk melakukan permainan ini khalifahnya (pemimpin group) harus melakukan amalan yang sangat panjang dan berat. Amalan-amalan khalifah debus ini diambil dari tarekat Rifa’iyah atau Qodariyah. Sehingga seseorang yang mendapat ijazah untuk menjadi khalifah dari permainan debus ini adalah mereka yang telah dianggap mampu atau lulus menempuh suatu perjalanan panjang dalam mengamalkan suatu do’a-do’a tertentu, melaksanakan puasa dan meditasi lama. Sedangkan, debus surosowan adalah permainan debus yang tidak memerlukan kemampuan yang tinggi. Karena itu, permainan debus ini bisa dilakukan oleh para remaja. Nama “surosowan” berkaitan dengan nama istana Kesultanan Banten. Nampaknya semenjak awal debus ini memang ditujukan untuk pertunjukan di Istana Surosowan pada masa Kesultanan Banten bukan untuk mendapatkan kesaktian. Hal ini berbeda dengan debus al-madad yang selain dipergunakan untuk pertunjukan juga dipergunakan untuk kesaktian atau pengobatan. Adapun, debus langitan adalah pertunjukan debus yang mempergunakan anak-anak remaja yang dijadikan obyek sasaran benda-benda tajam tanpa yang bersangkutan merasa sakit atau menderita luka-luka. Permainan debus langitan ini pun nampaknya ditujukan hanya untuk permainan belaka, bukan untuk mendapatkan kekebalan tubuh atau kesaktian.

E.      Tentara Wakaf dan Khodim Kyai
Peran jawara sebagai “tentara wakaf” ini dikoordinir oleh P3SBBI. Mereka biasanya diterjunkan pada acara-acara yang dilaksanakan oleh suatu organisasi atau partai politik. Pada masa Orde Baru “tentara wakaf” ini dijadikan alat oleh Golkar sebagai satuan pengamanannya di Banten. Bahkan, ketua umumnya sendiri dijadikan pengurus partai politik tersebut. Namun, perubahan politik yang besar yang terjadi di negeri ini pasca reformasi, juga ikut merubah pandangan politiknya. Mereka sekarang nampaknya ingin bersifat lebih netral, dengan tidak berafiliasi pada partai tertentu. Oleh karena itu, apabila ada tawaran-tawaran untuk menjaga keamanan atau membantu polisi, mereka lebih terbuka dan menerima tawaran tersebut tanpa lagi melihat afiliasi politik. Jawara yang sebenarnya adalah “khodim kyai”. Itulah suara-suara yang sering muncul dari para warga yang tidak setuju dengan peran-peran dan perilaku jawara sekarang ini. Peran sebagai “khodim kyai” maksudnya berperan sesuai yang diajarkan para kyai, yakni: membela kebenaran, berpihak kepada masyarakat yang lemah, berperilaku santun dan tidak sombong dan sejumlah aturan normatif lainnya. Peran-peran yang ideal itu semakin kurang dilakukan oleh para jawara di tengah kepungan kehidupan yang materialistik.

Penutup
Kyai sebagai salah satu sumber kepemimpinan tradisional dalam masyarakat Banten kini mengalami tantangan kehidupan modernisasi yang serius. Tak dapat dipungkiri bahwa peranan kyai dalam sejarah masa lalu masyarakat Banten sangat besar, namun ke depan menjadi sebuah tanda-tanya. Peranan kyai mungkin hanya akan menjadi catatan masa lalu, apabila pemberdayaan dan peningkatan wawasan terhadap mereka tidak dilakukan. Demikian pula dengan jawara. Kehidupan jawara yang sering dipresepsikan masyarakat secara negatif perlu ada orientasi baru. Meskipun usaha-usaha itu telah dilaksanakan oleh kalangan mereka sendiri, namun perubahan itu baru dalam tahapan simbol, yakni perubahan nama dari “jawara” ke “pendekar.” Secara substantsial nampaknya belum banyak berubah, bahkan budaya tersebut justru digunakan oleh sekelompok orang untuk meraih kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Maka, pencerahan melalui pendidikan terhadap para jawara justru akan menjadikan aset penting bagi peningkatan apresiasi terhadap kebudayaan Banten.


* Mantan gubernur KMB